Being yourself is never easy

LIFE- A Director’s Diary

Langit berwarna kelabu ketika aku melihat ke luar jendela kantor dari gedung pencakar langit di Jakarta, awan bergerumul dan bunyi petirnya membuatku sakit. Langit seolah menelanku ke dalam kesedihannya, menarik diriku masuk untuk hancur dan menjerit bersamaan dengan guntur yang meledak entah di mana pangkal ujungnya.

Di hari yang biasanya aku selalu menyukai suasana yang seperti ini, entah mengapa aku menyukai hujan besar, awan gelap dan cuaca yang menurut sebagian besar orang Jakarta malapetaka ini. Bilang aku gila atau psycho, biar sajalah… menyukai cuaca suram ini kan bukan mauku, sudah bawaan dari orok.

Jakarta menangis kah? Atau bumi Pertiwi yang menangis karena makin banyak manusia merusak dirinya yang indah, menghancurkan kecantikan dirinya dan membunuh diri mereka masing-masing.

Manusia…

Aku selalu berpikir bahwa manusia adalah mahluk Tuhan yang paling sempurna, terlalu sempurna bagiku hingga muncul kata-kata; nobody perfect. Benarkah? Lantas mau kau bilang apa tentang kehidupanku?

Arlana Margaretha, namaku. Tahun ini usiaku dua puluh empat, sudah banyak dan menurut sebagian orang sudah pantas untuk menikah. Aku cantik, sangat cantik, dengan wajah keturunan latin yang berpadu sempurna dengan darah Asia yang mengalir di tubuhku, semua orang menginginkanku. Tubuhku sempurna, 172 cm dengan kulit berwarna tan yang mempesona.

Gitaris, drummer, penyanyi, model, pemilik kafe, para eksekutif muda… tidak pernah bisa melepaskan pandangannya dariku, lebih tepatnya; wajah dan tubuhku. Mereka mampu menelanjangiku habis-habisan hanya dengan mata mereka yang lapar dan ucapan-ucapan kotor mereka, hal yang tidak pernah kusuka dari pria-pria itu.

Mereka hanya bisa melihat wanita dari sosok luarnya, semakin cantik wanita yang mendampingi mereka akan semakin bangga pula mereka dibuatnya. Tidak peduli seberapa besar volume otak wanita yang mereka kencani atau seberapa kosong isi kepala mereka. Karena mereka para pria-pria sukses itu hanya membutuhkan wanita penurut, bukan wanita cerdas sepertiku. Begitu tahu aku jauh lebih cerdas dari mereka dan tidak bereaksi terhadap rayuan-rayuan gombal mereka, para pria itu akan menjauh dariku sambil tidak berhenti mengutukiku. Mereka bilang aku brengsek, mereka bilang aku menyebalkan, mereka bilang aku nggak asik, hanya karena aku tidak meladeni sederet rayuan gombal mereka?

Omigosh pleaseee… mereka benar-benar terpengaruh dengan sinetron-sinetron di TV dan menyangka wanita cantik sepertiku ini bodoh dan hanya mengerti cara menghitung uang. Tapi well… biar sajalah, kutukan mereka tidak berpengaruh pada karir dan kehidupanku, di usiaku yang belia aku sudah menduduki kursi Advertising Director di sebuah perusahaan majalah wanita ternama di Indonesia.

Berdasarkan sepenggal isi kepalaku ini, orang akan mengatakanku naif, sok jual mahal, angkuh, um.. brengsek mungkin? Dan sederet lainnya, seperti yang sudah orang-orang lakukan saat ini. Bukankah diriku sama seperti hujan? Ketika hujan datang dan menyapa kota dengan ramah, semua orang dengan suka cita menyambutnya, tapi jika hujan datang dengan amarah dan peringatan bagi orang-orang kota, mereka malah akan menghujatnya dan memintanya pergi.

Kehidupanku sempurna?

Dua puluh empat, cantik, seksi, cerdas, berpendidikan, dari keluarga terpandang, karir yang menarik, dan berwawasan luas. Sempurnakah? But hey… nobody perfect. Seberapapun kupikir kalau aku sempurna, aku selalu menemukan cacat di dalam diriku, membuatku terus menerus meng-introspeksi  diri yang ternyata malah menyiksa diriku sendiri, karena aku tidak juga kunjung menemukan ujung cerita dari masalahku selama ini. Penyebab kecacatan dalam kesempurnaanku.

Salah seorang temanku pernah berkata seperti ini;

“Gue heran, kenapa sih harus ada banci, harus ada gay, harus ada cewek yang pengen jadi laki-laki or cowok yang pengen jadi cewek? Itukan penyakit ya Lan… suatu kebodohan, penurunan moral.”

“Kenapa lo bisa bilang begitu?” Tanyaku.

“Lo bayangin deh, binatang kecil… kayak burung misalnya. Otaknya nggak ada sepersepuluhnya otak kita manusia. Tapi burung-burung itu bisa mengenali lawan jenis mereka sendiri, bekerja dengan natural. Sesuai dengan keinginan alam, sedang manusia itu kan pintar… kenapa harus berbuat begitu bodoh?” Tanya Fita, mendengar penjelasannya aku hanya bisa tersenyum.

“Justru karena manusia itu diciptakan sempurna oleh Tuhan dan dengan volume otak sedemikian besar maka mereka bisa berpikir, pemikiran mereka terlalu rumit. Mereka juga bisa merasa, perasaan yang juga terlalu rumit. Apa lo pikir burung-burung yang lo ceritain tadi bisa berpikir dan merasa se-complicated kita manusia? Nggak kan? Itulah jawaban kenapa kita bisa menjadi mahluk paling rumit, paling kompleks sekaligus paling bodoh di dunia. Dan jangan bilang jadi banci, gay or lesbian itu penyakit. Bukan trend, bukan penyakit, tapi itu soal rasa. Karena cinta itu datangnya nggak pake bilang-bilang kayak lo mau dateng kerumah calon mertua…. Cinta itu datang gitu aja, nggak pernah mau peduli dan ngeliat gender. Kalo maenannya udah soal hati, otak lo gedenya kayak apa, sesempurna apapun manusia… mereka nggak akan bisa menolak.”

“Wow… lo harusnya kerja di kantor konsultan, bukan direktur adver.”

“Apa boleh buat, gue sempurna sih…”

“Sialan!”

Sepenggal cerita dari kehidupanku, bercerita mengenai piciknya pikiran seorang manusia. Dan itu tidak hanya terjadi pada satu atau dua individu, tapi banyak. Kebanyakan dari mereka hanya berpikir dan berargumen seperti apa yang mereka lihat di depan mata saja, tidak pernah mau menelaah lebih jauh. Mengenali lebih banyak lagi, mencoba untuk mengerti. Bahwa segala sesuatunya tidak ada yang mudah dan tidak ada yang sempurna.

Dulu…

Dulu sekali aku berpikir tidak akan pernah bisa jatuh cinta, tidak akan pernah bisa bertahan dalam satu hubungan. Hatiku hampa, kosong, dingin dan ehh… brengsek. Hubungan ‘cinta’ku tidak pernah bertahan lebih dari dua bulan, dan rekor terbaikku adalah satu hari. Pagi aku menyukainya dan menerima cintanya, malam aku muak dengannya dan langsung memutuskan hubungan kami. Lagi-lagi kata brengsek dilontarkan di depan wajahku.

Cinta… tidak pernah ada dalam kamus kehidupanku, sampai aku berpikir aku akan menikah dengan pria manapun yang bisa menyenangkan kedua orang tuaku. Pemikiran itu ditentang mentah-mentah oleh seluruh temanku, mereka bilang aku gila; lo pikir ini masih jaman Siti Nurbaya apa?

Well… no, but my heart say so… I am the problem… so please, mind it.

Sampai setahun yang lalu aku menemukan tanda-tanda cinta, cinta yang buta, cinta yang gila dan cinta yang menyakiti. Hampir saja cinta itu membunuhku, jika aku tidak terlatih untuk pandai bicara bohong, cinta itu… sudah membuatku mati setahun yang lalu.

Mendadak hanya sosoknya yang berputar di kepalaku.

Hanya suaranya yang memenuhi ruang di telingaku.

Cuma senyumnya yang terpampang di mataku.

Duniaku mendadak menjadi kelabu dan hanya sosoknya yang terlihat berwarna di mataku yang buta oleh cinta gila ini.

Sakitnya terasa sampai ulu hati, hanya mendengar dia tertawa saja sudah membuatku bungkam. Orang ini gila, pesona apa yang dimiliki dirinya sampai membuatku sakit seperti ini?

Dalam hitungan hari kami menjadi dekat, dia adalah model dari proyek iklan yang sedang kutangani. Hhhh… keterlaluan, sosoknya selalu membuatku gelisah tidak karuan.

Aku mencintaimu…

Aku mencintaimu…

Aku mencintaimu…

For God sake… I LOVE YOU!! Damn it!!

“Lan… kamu baik-baik aja?”

“Ya, aku baik-baik aja kok San…” Dia mencemaskanku, sentuhan tangannya membuatku mabuk.

Aku ingin terus merasakan dirinya bersamaku, merasakan sentuhannya, merasakan sentuhannya, merasakan dirinya… bersamaku. Keinginan yang mustahilkah itu?

“Tapi mukamu pucet banget.”

“Cuman capek aja kok.”

“Kamu istirahat nggak?”

“Iya iya istirahat kok.” Aku menjawab dengan cepat, ingin rasanya aku menghentikan waktu dan membiarkan dia hanya menjadi milikku untuk waktu yang sesaat saja.

“Sandra! Istirahatnya udah abis.” Itu dia teriakan manajernya yang tidak ingin kudengar.

Sandra…

Ya itu nama orang yang kucintai setengah mati, nama orang yang membuatku tersadar bahwa hatiku tidaklah hampa, masih bisa mencinta dan merasa.

Cinta ini tidak membunuh diriku, tapi membunuh hatiku. Yang sempat mencinta kembali menjadi beku, aku berpikir dengan nalar sekalipun hatiku menolak mati-matian. Ingin rasanya aku menjerit; memangnya siapa yang bisa menentukan kau harus berpasangan dengan siapa dan mencintai siapa? Jika cinta ini salah adanya, kenapa aku diberikan rasa menyakitkan seperti ini?

SIALAN!

Tuhan… jalan apa yang sebenarnya ingin kau perlihatkan padaku? Apakah ini balasan dariMu karena aku tidak pernah sungguh-sungguh mencintai para pria yang mencintaiku selama ini? Inikah karma yang harus kuterima? Dengan mencintai seorang wanita?

Aku mencintaimu Sandra…

Demi Tuhan aku mencintaimu…

Tidak ada yang salah dengan diriku, aku hanya mencintaimu… itu saja. Masih berhakkah orang-orang di luar sana mentertawakan kebodohanku karena aku mencintai seorang wanita? Menganggapku penyakit?

Aku tumbuh besar dengan konstruksi sosial yang beranggapan bahwa laki-laki harus berpasangan dengan wanita, aturan sejak kecil, tata krama… dicari seluruh buku manapun tidak ada yang bisa memberikan jawaban atas hatiku yang mulai menggila. Semakin hari perasaanku semakin besar, semakin aku menginginkan Sandra untukku seorang.

Aku menangis…

Menangis lagi…

Nalarku berkata; itu tidak benar, tapi hatiku mengutarakan hal yang berbeda; aku mencintai Sandra.

Dia perempuan dan aku perempuan!

Kenapa cinta ini begitu menyakitkan? Tidak adakah pilihan lain untukku? Berulang kali kutanyakan pada Tuhan; jika cinta ini adalah dosa dan salah, kenapa aku harus merasa? Salah siapakah ini?

“Kamu mau menikah?” Sandra datang ke kantorku hari ini, sejak setahun yang lalu kami jadi berteman dekat.

“Ya.”

“Sama siapa?” Wajahnya sedikit tertekuk, membuatku sedikit berharap kalau dia memiliki perasaan yang sama denganku, tapi apapun itu alasannya, hubungan antara kami tidak punya masa depan selain ikatan pertemanan.

“Sama cowok dong, masa sama bencong.” Aku bercanda, tapi dia sama sekali tidak tertawa.

“Iya siapa?” Cecarnya.

“Cowok yang dikenalin sama keluarga bokap, tiga bulan lalu.”

“Kenapa buru-buru?”

“Dia mau keluar negeri akhir tahun, jadi kami akan menikah November.”

“Dan kamu akan meninggalkan Indonesia?”

“Ya, meninggalkan Jakarta dan seluruh kenangan yang terkandung di dalamnya. Untuk hidup bahagia bersama dengan suamiku.” Jawabku dengan lagak tenang yang dibuat-buat, ini adalah salah satu jalan untuk membunuh hatiku; menikah dengan pria baik-baik, membina keluarga bahagia dengan begitu perasaan ini bisa terobati, begitu pikirku.

“Kamu akan meninggalkan aku berarti…”

“Sandra, temenmu kan nggak cuma aku! Lagipula aku cuma pergi selama enam tahun.” Jawabku enteng, dienteng-entengin.

“Aku nggak bisa!”

“Kok?”

“Kamu pikir aku terus menerus menghubungimu selama setahun ini untuk apa???”

“Sandra?”

“Kupikir kamu juga MENCINTAIKU!!!” Sandra menjerit pilu dan melarikan diri.

Ya Tuhan… apalagi yang kau rencanakan kali ini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s