Being yourself is never easy

Cliches – Part.1

Matahari begitu terik menyinari kota Jakarta, kota yang seperti biasanya tampak padat dan berantakan. Di kota ini asma-ku terus saja kumat, entah sudah keberapa kalinya dalam setahun aku kembali menginjak rumah sakit ini sebagai pasien rawat inap. Untuk kesekian kalinya aku masuk lewat unit gawat darurat, bernafas satu-satu bagai orang sudah mau mati.

Berulang kali dokter Heri menanyakan apa saja yang kukerjakan sampai aku kembali menjadi pasien rawat inap di rumah sakit tempat dia bekerja.

“Tubuhmu lemah, paru-parumu tidak sehat dan jantungmu… Aria… kamu tahu ada apa dengan jantungmu bukan?”

“Ya, aku tau dokter…”

“Apa kamu melakukan kegiatan yang berlebihan lagi?”

“Nggak… hanya memasak di dapur.” Jawabku malas.

“Itu yang buat kakimu membiru?”

“Membiru? Memangnya ada apa?”

“Ada lebam di kaki kananmu, karena masak?”

“Oh… itu…” Pantas saja kaki kananku terasa kram belakangan ini, ada lebam rupanya.

“Terjatuh saat aku mau ambil panci, kepalaku terantuk meja dapur dan kakiku tertahan di atas kursi.” Jelasku dengan cepat.

“Hmmm…”

Dokter Heri melakukan beberapa pemeriksaan rutin lagi, sebenarnya dia ingin aku menyetujui tindakan untuk operasi. Jantungku sejak kecil sudah lemah, penyakit bawaan lahir. Tapi aku belum mau mati di meja operasi, kalaupun aku mati… aku akan mati dalam pelukan orang yang mencintaiku.

Bukan di meja operasi.

Aku menengadah menatap langit yang terlihat dari luar jendela rumah sakit, mengacuhkan dokter Heri dan para suster yang terus sibuk mengukur tensi-ku setiap satu jam sekali.

Awan mendung berawan tanpa arti, tanpa tanda-tanda kehidupan, tidak ada burung-burung kecil yang berterbangan seperti ketika langit berwarna biru. Tidak ada gerimis, apalagi hujan, bahkan angin-pun enggan menyapa. Sungguh cuaca yang aneh, tapi menurut para ilmuwan ini adalah dampak dari gejala Global  Warming.

Aku bahkan tidak peduli apa itu Global Warming dan tidak ingin ambil pusing, sementara orang-orang di luar sana berlomba-lomba menanam ratusan pohon yang toh… akan segera dibiarkan mati juga pada akhirnya, kemudian orang-orang tidak berpendidikan lainnya terus merusak alam dengan ketidaktahuan mereka yang polos; meludah sembarangan, buang air sembarangan, buang sampah sembarangan, merokok sembarangan dan entah dosa apalagi yang sudah mereka lakukan. Dan aku?

Menjadi tawanan cinta yang menyakiti, entah apa yang kulakukan sehingga aku sendiri bingung dengan jawaban hidupku ini.

Aku memejamkan mata, mencoba mendengarkan suara alam yang berada di balik jendela kamar yang terbuka. Dengan selang oksigen yang mengelilingi tubuhku, dan nafas yang masih tidak mendekati normal.

Perlahan tapi pasti kudengar detak jam dinding yang tertempel di dinding kamar rumah sakit.

Tok… tok… tok… berdetak seirama dengan detak jantungku.

Deg… deg…deg deg………deg yang bahkan terkadang kudengar jantungku berdetak lebih cepat atau lebih lambat, menimbukan simfoni baru yang menakutkan di telingaku.

Terdengar pula suara gelembung air dari tabung oksigen yang berada di belakangku, ah… sungguh ironis, irama itu sudah menjadi akrab di telingaku sejak aku menginjakkan kakiku di Jakarta dua tahun belakangan ini. Kemudian bunyi mesin yang tertempel dengan jantungku.

Nit…nit… nit nit………nit, sigh… benar-benar seirama dengan detak jantungku yang abnormal.

Aku tidak mendengar desah angin di luar sana, tidak juga mendengar gesekan daun yang menari akibat angin yang bertiup, tidak ada suara anjing yang menggonggong atau suara kucing yang berkelahi. Aku tidak mendengar bunyi wajan panas yang disiram air seperti yang selalu dikerjakan oleh pembantu di rumahku, tidak mendengar bunyi gemericik air wastafel yang tidak pernah bisa menutup dengan sempurna, tidak mendengar suara langkah kaki di depan kamar yang familiar, tidak ada apa-apa… Aku tidak mendengar apapun yang menyenangkan.

Hanya peralatan rumah sakit serba canggih ini yang kudengar, serta jeritan dari jantung yang masih terus berusaha untuk tetap menopang kehidupan di tubuh 170 cm milikku ini.

Mataku nanar, aku menatap keluar jendela. Langit sudah berubah menjadi merah, awan-awan kelabu itu masih berada di sekitar langit yang memerah. Burung-burung bersayap hitam memeriahkan suasana sore yang kulihat dari jendela kamarku.

Srekkk… jendela ditutup tanpa meminta persetujuanku lebih dulu, seorang suster berusia pertengahan tahun dengan tubuh gempal dan wajah yang ramah tersenyum padaku.

“Masih sesak?” Tanyanya dan aku mengangguk lemah, pertanyaan klise menurutku.

“Mau dimandikan nggak?”

Aku menggeleng, terlalu dingin untukku mandi saat ini. Tidak… tidak sekarang, aku sedang tidak ingin seorangpun menganggu waktuku sedetikpun, apalagi sampai menelanjangi tubuh tidak berdayaku seperti sekarang ini. Tidak sekarang… hatiku sedang lemah.

“Ya sudah… mau dinyalakan TV-nya?” Aku mengangguk pelan.

Suster Ida namanya, dia menyalakan TV dan memutar channel kesukaannya; sinetron. Aku menggeleng kuat-kuat, tidak bisakah dia memberiku pilihan lain selain tontonan cengeng yang murahan itu?

“Eh? Nggak mau? Yang laen? Kuis?”

‘Berita saja suster…’ Pintaku lemah dalam tube oksigen yang menyelubungi mulut dan hidungku.

“Oohhh… berita…” Suster Ida menggantinya ke channel yang menyediakan berita hampir dua puluh empat jam tayangannya, dia baru ingat aku selalu menonton channel itu, dia lupa kalau aku benci sekali dengan sinetron.

“Mama nggak dateng ke sini?” Tanyanya lembut sambil membetulkan selimutku, aku menggeleng.

Siapa itu mama? Tanyaku dalam hati, aku tidak memiliki wanita yang bisa kupanggil ‘mama’ lagi. Orang tuaku sudah meninggal dalam kecelakaan di Inggris, dua tahun lalu… itu menurut berita yang kudengar.

Kudengar? Ya… kudengar…

Aku tidak pernah bisa mengingat kejadian yang terjadi sejak dua tahun lalu, polisi Inggris menemukanku dalam keadaan meringkuk di jok belakang mobil dengan ‘mama’ yang masih memelukku dengan erat. Tubuh mama hancur terbakar dan terluka parah, tubuh papa terjepit di antara truk yang menabrak mobil kami dan kaca jendela depan. Ajaibnya, aku hanya mengalami patah tulang kaki dan gegar otak ringan, darah yang ditemukan di sekujur tubuhku bukan darahku sendiri, melainkan milik ‘mama’.

Begitu orang menceritakannya padaku, mereka berkata bahwa aku anak yang beruntung. Tapi Tuhan memberikanku balasannya, karena aku telah hidup seorang diri dan membiarkan orang tuaku mati dalam kecelakaan yang seharusnya juga merenggut nyawaku; ingatanku hilang, amnesia kata dokter yang menanganiku.

Dua minggu lamanya, pihak rumah sakit dan lembaga sosial di Inggris mencari keluargaku. Beberapa pasangan setengah baya sudah hendak mengadopsiku secara sah dari pemerintah Inggris, mereka iba dan tertarik pada wajah Asia-ku yang cantik dengan mata biru yang menawan warisan dari ‘papa’.

‘Papa’ adalah warga negara Inggris, seorang pegawai swasta biasa yang tidak punya terlalu banyak harta untuk diwariskan pada anak satu-satunya; aku. ‘Papa’ tidak punya keluarga di negaranya sendiri, dia seorang pria sebatang kara yang jatuh cinta pada mahasiswi Indonesia yang memiliki kesempatan untuk belajar di Inggris, yaitu; ‘mama’.

Tiga  minggu setelah aku dikatakan sehat, pemerintah Inggris sepakat mengirimku kembali ke negara ‘mama’; Indonesia. Memberikanku pada keluargaku yang sebenarnya, orang-orang yang memiliki ikatan darah denganku, bukan orang-orang yang jatuh hati dengan kecantikan wajah eksotis Asia-ku atau mata biruku yang menawan ini.

Aku begitu asing ketika menginjakkan kaki ke negara yang berantakan ini, wajah orang-orangnya berbeda dengan yang selalu kulihat di Inggris. Tapi mereka semua memiliki warna rambut yang sama denganku; hitam.

Aku menghirup udara kotor yang panas ketika pertama kali keluar dari dalam pesawat dan menatap sekelilingku.

Jadi ini adalah Indonesia… negara kelahiran ‘mama’… pikirku kala itu. Bandar udaranya begitu sesak dengan manusia, padat dengan trolley yang tidak teratur, mobil-mobil yang berdesakan dan lagi… sederet taksi yang berlainan merek.

Wow! Negara ini pasti punya banyak uang untuk membelanjakan mobil taksi sebanyak ini pikirku takjub. Orang-orang yang kulihat berkulit hitam, cokelat atau entah…apa mereka menyebutnya itu? Ah… si hitam manis.

Mataku terus menatap takjub suasana yang terjadi di sekitar bandara Indonesia, para pria berkulit cokelat tengah merokok dengan tidak sopan dan menunggu di depan pintu taksi mereka lengkap gaya mereka yang tidak teratur. Baju mereka lusuh dan kotor, janggut memenuhi wajah mereka. Lalu aku melihat para wanita socialita ala Indonesia yang turun dari dalam sebuah taksi berwarna hitam.

Mereka tampak terus bicara di telepon tanpa peduli orang-orang sekitar mereka terganggu, saat itu aku sama sekali tidak mengerti apa bahasa yang mereka ucapkan. Menurut terjemahan telingaku saat itu adalah bahasa alien, mengerikan dan membuatku muak. Pemandangan yang ironis, dewi keadilan tidak ada di negara ini rupanya.

Kemudian aku dipertemukan pada dia…

Seorang wanita cantik bergaya socialita, dandanannya kelas tinggi, wajahnya mempesona dan angkuh. Kulitnya putih cemerlang, dia menggunakan sepatu hak tinggi yang mahal, menenteng sebuah tas dari Guess yang pasti juga sangat mahal, mengenakan lipstik merah menyala dan menatapku dengan tatapan kosong dari atas hingga ujung kakiku yang kala itu mengenakan sepatu kets butut.

I’m your mother’s little sister… Gwen.” Ucapnya dengan suara tinggi dan nada wanita kelas atas.

Aria… Aria McSmith.”

Cih.” Ucapnya singkat dan berbalik, dengan satu jentikan dari tangannya seorang pria langsung mengangkut barangku yang hanya sedikit sambil mengucapkan terima kasih pada pramugari cantik yang menemaniku sejak aku meninggalkan Inggris.

Thank you Selene…” Jawabku sambil tersenyum, pramugari itu tersenyum dan menghadiahkan ciuman singkat di pipiku.

Be fine okay… You have my number… Call me whenever you need… I hope we will meet again… soon.” Jawabnya, dari matanya aku tahu dia cemas. Melihat kondisiku dan wanita angkuh yang menemuiku.

Okay… soon.” Setelah berkata begitu aku segera berlari, menghampiri wanita yang mengaku sebagai adik dari ‘mama’.

Usiaku delapan belas.

Itu dua tahun yang lalu, saat ini… aku menginjak usia yang kedua puluh dan tidak banyak kejadian yang berubah sejak saat itu. Aku masih belum bisa mengingat siapa diriku sebelumnya, seperti apa kehidupanku dengan kedua orang tua kandungku dan apa yang kukerjakan sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku masih belum bisa mengingatnya, tidak ada yang berubah… Hanya tubuhku yang semakin ringkih dari hari ke hari.

Aku benci kota ini.

Aku benci Jakarta.

Mum… I hate your country…

I hate your sister too.

to be continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s