Being yourself is never easy

Hollow – Part. 1

INTRODUCTION

Aroma parfum Casablanca tercium pekat ketika gadis itu lewat, keempat pemuda berandalan yang berada di pinggir jalan langsung tersenyum ketika melihat gadis itu jalan di depan mereka dengan santai.

“Haiiii ceweeeekkkk.” Mulut mereka berbau alkohol bercampur rokok, dengan rambut gimbal yang tampaknya sudah tidak dicuci berbulan-bulan.

Gadis itu sama sekali tidak menoleh, dia terus berjalan lurus dengan mata kosong yang menatap ke depan. Malam yang sama seperti yang biasa dia lalui, hanya saja orang menyebut malam ini; malam Minggu. Waktu bagi mereka untuk bersenang-senang, mabuk, kencan atau bernostalgia hingga malam.

Mereka yang tidak mampu, berkumpul bersama, tertawa sambil menghitung penghasilan yang mereka dapatkan hari ini. Berharap dapat menikmati sesuap nasi untuk esok hari. Biar malam ini mereka bergembira, tertawa bersama, menikmati kebersamaan mereka.

Perasaan gadis itu kalut seperti biasanya dan gangguan cowok-cowok berandal itu membuatnya muak. Tangannya terkepal di dalam saku jaketnya dan dia menenggelamkan kepalanya ke dalam kerah jaketnya, berusaha untuk menepis suara-suara yang menganggu isi kepala serta mengaduk-aduk isi hatinya.

“Diam! Diam kalian!” Gadis itu menjerit membungkuk, menutup kedua telinganya.

Bukannya diam para berandalan itu malah semakin senang menganggunya, mereka bahkan sudah berani mendekatinya.

“Jangan katakan aku tidak menyuruh kalian untuk diam.” Gadis itu berbalik, matanya berwarna merah, dia marah.

Berandal itu hanya tertawa sambil berkata; ‘tenang dong cantik… kita bisa bicarakan sama-sama.’. Gadis itu menepis tangan salah satu berandal yang menyentuhnya, dia menepuk keras tempat bekas berandal itu meletakkan tangan di tubuhnya seolah-olah berandal itu adalah mahluk paling hina di dunia.

“Oh astaga nona manis… kau melukai hatiku.” Jawab berandal yang tadi memegang tangannya, wajahnya tampak lebih dewasa dibanding yang lain.

“Seharusnya kau katakan pada teman-temanmu untuk mundur, kalian para penjahat seharusnya tahu siapa yang bisa kau lawan dan siapa yang tidak.” Jelas gadis itu, masih terdengar setengah memohon.

“Oh… kami sangat tahu sekali, dan gadis sepertimu memang tidak seharusnya kami lawan. Melainkan kami nikmati bersama-sama!” Teriak seorang berandal berkepala botak dengan banyak anting di telinga dan hidungnya, dia membuat teman-temannya berteriak riuh rendah.

“Jangan katakan aku tidak memperingati kalian.” Gadis itu menoleh, wajahnya sudah setenang air danau. Tidak ada ketakutan sama sekali, berbeda dengan sebelumnya yang berkata dengan memohon untuk membiarkannya dia pergi.

Gadis itu berdiri tegap di tempatnya, tersenyum senang. Wajahnya sangat tenang tapi matanya memancarkan kejahatan yang luar biasa, sebuah kegelapan tanpa dasar. Seorang dari berandalan itu menyadari perubahan gadis itu.

“Bang, lebih kita pergi. Gadis itu bukan lawan kita bang.” Pintanya dan menarik si berandal yang tampak paling tua di antara mereka.

“Kau takut Cil? Yang benar saja! Kau ini anggota Blakers! Kau harusnya berani memperkosa satu orang gadis atau membunuh seorang wanita tua. Bukan merengek seperti ini dan nyaris terkencing-kencing.” Tawa si berandal yang paling tua.

“Nasihat yang bagus dari si kecil, matanya bagus.” Seru gadis itu.

“Kau! Jangan banyak bicara perempuan, salah bagimu melangkah masuk ke dalam daerah kami!”

“Memang keinginanku. Aku sedang mencari teman bermain malam ini. Kulihat kalian mau menemani aku, jadi kalian ingin memperkosaku eh?”

“Menurutmu cantik?”

“Gadis cantik sepertiku dan kotoran hewan macam kalian? Perkosa aku setelah aku puas bermain dengan kalian. Setuju? Aku tidak akan menyerahkan tubuh indahku dengan mudah.” Gadis itu mendekat, kedua tangannya keluar dari dalam saku jaketnya.

Keempat pemuda itu langsung mengepung sang gadis sambil mengenggam botol bir di tangan kanan mereka serta rokok menyala di mulut mereka yang bau.

“Kalian sungguh bau.” Gadis itu melayangkan tamparannya dengan cepat, membuat berandal itu naik darah.

Dia menampik tangan yang hendak meninjunya, memutar tubuhnya dengan ritme yang sangat cepat dan menjatuhkan tendangannya pada tengkuk pemuda berandal yang mencoba menyerangnya pertama kali, pemuda itu jatuh berdebum ke tanah tanpa perlawanan, matanya memutih dengan busa di mulutnya bercampur darah. Irama musik keras mengalun di dalam aliran darahnya, dia sedang bersemangat malam ini.

“Brengsek! Serang!” Sahut si tua dan memberi instruksi untuk menyerang bersamaan.

Gadis itu melompat setinggi dua meter di udara, dia tersenyum dalam cahaya bulan purnama yang menerangi tubuhnya di atas langit. Dan kemudian terjatuh sambil menghantam lututnya ke arah pundak seorang pemuda berandal dan menimbulkan bunyi ‘krak’ parah.

“Dua sudah jatuh, tinggal dua lagi.”

Gadis itu tersenyum, tinggal si tua dan si kecil bisiknya membuat dua berandal itu merasa sangat tidak nyaman terutama si kecil. Dia sudah gemetar lebih dulu, gadis itu bisa melihat berandalan kecil itu kencing di celana jins ketatnya. Si tua kemudian mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku celananya, dia tersenyum senang sambil memperlihatkan deretan gigi kuningnya membuat udara di sekitarnya lebih bau lagi karena nafasnya.

“Tidak sangka untuk mengalahkan seorang perempuan seperti kau harus menggunakan ini, kau jangan meremehkanku perempuan. Segera setelah aku melukai tubuhmu akan kunikmati lubang surgamu dengan cara yang tidak akan kau lupakan sampai mati nanti.” Sahut si berandal yang paling tua, alih-alih merasa takut pada gertakan si berandal, si gadis malah tersenyum senang.

“Ayo lukai aku, tidak seru bermain kalau tidak ada perlawanan. Temanmu payah.” Serunya sambil menunjuk dua berandal yang terkapar tidak berdaya, bahkan mungkin sudah tidak lagi bernafas.

Please play with Joy… I need more… more…” Mata gadis itu berkilat dalam gelap, senyumnya tersungging di wajahnya. Senyuman miring sama seperti selera bermainnya yang miring.

“Diam! Lawan aku pelacur!”

“Oh, dan kau adalah gigolonya!” Seru gadis itu senang, lelucon itu akan tampak lucu (sepertinya) jika mereka berada dalam suasana pertemanan yang biasa.

Gerakannya lumayan cepat, pemuda itu berusaha untuk segera melukai si gadis dengan pisau di tangannya. Dia sudah merasakan aura intimidasi di sekelilingnya, gadis itu menatapnya nyalang. Tidak ada ampun di matanya.

Pemuda berandal itu sudah melihat apa yang dilakukan gadis itu pada dua temannya dalam hitungan detik, membuat mereka langsung jatuh terpuruk atau mungkin mereka sudah mati saat ini.

Pisau itu berhenti tepat di leher jenjang sang gadis, hanya berjarak satu sentimeter antara ujung runcing pisau dan kulit indahnya. Tapi si pemuda berandal sudah terhenti, di perutnya tangan terkepal sang gadis sudah bersarang.

Darah muncrat dari mulut si pemuda berandal, dia terjatuh tapi masih bertahan untuk berdiri dan melawan. Berakhir dengan pisau di lehernya sendiri, gadis itu sudah memutar gerakannya dengan cepat dan mengarahkan tangan berandal itu untuk melukai dirinya sendiri.

“Berakhir dengan senjatanya sendiri… ck ck ck… sudah kukatakan senjata itu tidak bagus untuk mainan, lebih baik tangan kosong.” Gadis itu berbalik, menatap si kecil yang sudah jatuh di tanah.

Berkubang dalam air seninya sendiri dengan wajah penuh air mata serta ingus, gadis itu tersenyum.

“Berapa umurmu?”

“…”

“Kutanya berapa umurmu?”

“Ti.. tiga belas.”

“Jangan bermain-main dengan berandal anak muda, lebih baik kamu sekolah. Sana pulang ke ibumu.”

“…”

“Oh ya, tapi sebelumnya.” Gadis itu menarik si kecil hingga berdiri, tangannya meremas lengan si kecil dengan kuat sehingga berandal kecil itu merintih.

“Sakit?”

“Ya.” Si kecil mengangguk pelan dengan takut.

“Tentu saja sakit, itu akibatnya kalau kamu bermain-main dengan preman. Senang kau menjadi preman hah?”

“Ti-tidak.”

Sebuah tamparan keras melayang di pipi anak itu, membuat kupingnya berdenging dan matanya berkunang-kunang.

“Ingat pukulanku dan pulang keibumu! Jangan bermain dengan preman! Sana pulang! Kutampar lagi kau hah?!”

Tanpa komando dua kali, anak itu langsung lari tunggang langgang. Gadis itu mendecis tidak suka sambil melihat hasil karyanya, seperti dugaannya ketiga pemuda itu sudah mati. Dia menggeleng pelan.

“Kenapa mereka selalu saja berakhir mati ya?” Gerutunya dan membetulkan posisi ketiga pemuda itu, meluruskan tubuh mereka dan menangkupkan kedua tangan mereka di dada.

“Posisi terhormat, tidak jelek kan? Besok polisi akan menemukan kalian dan mengubur kalian dengan layak.” Jawab si gadis, berjalan menjauh sambil menyalakan rokok Marlboro dan bersenandung pelan.

to be continued-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s